23 Januari 2012

Untuk Sahabat (2)

terkadang langit tak selalu biru
dia bersinar sesuai suratan
namun dia tetap ada saat kau tengadah

diantara langkahmu yang muram
dia mengawasi dibalik pohon
bersenandung penuh mantra

ketika kau tersungkur diatas bumi
bahkan terlalu jauh kau mengerat langit


langit tetaplah langit,
kadang biru kadang hitam
tapi dia tetap melihatmu
sebagai perisai hati yang memprasasti

Untuk Sahabat (1)

waktu ringan berjalan
ketika kusibak album yang pernah berkisah

potretmu melintas memnuhi ruang
lalu kau taruh kenangan
yang tak bisa kuhalau

tentangmu adalah warna
yang menyatu diantara sekian celoteh
tempatku mencari dan menemukan
sebaris kehangatan yang tak lapuk

tentangmu tetaplah warna
yang menemukan dan mencariku
dari segala pelipur arah
melepasku bersantun doa

Pecundang

gemerlap detak yang menghujani
membisiki pecundang yang kehabisan alasan
berharap pelangi memayungi segala gerik
dibawah petang yang menertawai

masih mencoba menelusuri
sejenak menemui harapan yang menjejak

tujuan yang terlalu memaksa
memisahkan kenyataan dengan harapan yang memanjang

Lantunan Pagi

kini surya menyapa
melupakan ngilu yang semalam menggigit

kunikmati ritme nafas yang memburu
dalam kayuhan yang gentar

kuresapi warna pagi
seakan udara ikut membayang
diantara diam yang kusimpan,
kumengingatmu..

Doa Ketika Malam

Tuhan
seluas kasihMu kini mengarungi
saat kau tuliskan namanya diperjalananku

seketika detak surya menguning
lalu Kau warnai kanvasku seindah pelangi
membekas dilorong terpanjangku

Tuhan
berikanku kunci malam
agar kumasuki ruang bintang bersamanya
melantunkan lagu pengharapan

dan ketika langit mulai berpawai
pinjamiku sepotong bulan
menjaga lelapnya hingga pagi menyingsing

TENTANG BINTANG

saat malam kusulap bermandi bintang
sudikah kau memetiknya
menaruh simpul cahayanya disaku bajumu
menyimpan seluruh teka teki yang menari
dibalik lembut lekuknya
ditiap titik memancar
memusatkan energi bersayap doa

akan kunyanyikan ditiap malamku
tentang bintang yang berpijar setia

MEMBACA ARTI

dimatamu kulihat keteduhan
berpijar melambat mengisi lorong hati

dalam lelapmu kuterjaga
mengingat yang kau lupa
membaca arti yang kau gariskan dijalanku

lembar ini berjalan
mendekat mengetuk ruang yang menyisa
sarat akan merah biru ungu

kuberpasrah,
dilubuk hati selalu menata